Dampak Invasi Rusia ke Ukraina Terhadap Supply Chain Indonesia

Kargo
Homeicon-breadcrumbBlogicon-breadcrumb
Invasi Rusia & Ukraina Terhadap Supply Chain

Setelah dihantam oleh pandemi, terusan Suez macet, kini supply chain global kembali mengalami tantangan yang tidak terduga akibat bentrokan bersenjata di perbatasan Eropa antara Rusia dan Ukraina.

Invasi Rusia ke Ukraina berpotensi menyebabkan gangguan supply chain yang berbahaya dan mematikan bagi di seluruh dunia, menurut penelitian.

Rusia dan Ukraina adalah "kunci" bagi supply chain skala global.

sebuah laporan oleh Interos memperingatkan konflik antara kedua negara dapat membahayakan ribuan perusahaan di seluruh dunia.

Laporan ini muncul setelah Rusia menempatkan 100.000 tentara di dekat perbatasan Ukraina, sebagai bentuk protes terhadap ekspansi NATO di seluruh Eropa timur sejak 1990-an dan jatuhnya Uni Soviet.

Tim supply chain harus meninjau ketergantungan perusahaan pada supplier dari Rusia dan Ukraina. Hal ini dibutuhkan untuk menilai risiko dan memastikan kelancaran operasional produksi.

Dampak Konflik Rusia dan Ukraina Terhadap Global Supply Chain


1. Harga gas

Ketegangan geopolitik antara Rusia dan Ukraina berisiko terhadap inflasi terhadap harga gas global.

Rusia memasok lebih dari persediaan gas alam Uni-Eropa, dan ancaman terhadap supply ini dapat membuat harga gas meroket tinggi.

Laporan Interos menyebutkan tekanan pada supply gas alam dapat memicu volatilitas di pasar energi lainnya. 

Invasi Rusia ke Ukraina dapat membuat harga minyak melonjak hingga $150 per barel, yang akan menurunkan pertumbuhan PDB global hampir 1% dan inflasi ganda. 

Lebih lanjut dijelaskan, bahkan jika minyak naik $100 per barel, ini akan menyebabkan biaya input dan harga konsumen melonjak.


2. Harga makanan

Konflik Rusia-Ukraina juga dapat mengakibatkan kenaikan harga pangan. 

Mengapa?

Ukraina ditetapkan menjadi eksportir jagung terbesar ketiga di dunia menurut International Grains Council. 

Rusia adalah pengekspor gandum utama dunia. Ukraina juga merupakan pengekspor utama biji barley dan gandum hitam.

Menurut laporan Interos, harga pangan saat ini hanya akan diperburuk dengan kenaikan harga lainnya, terutama jika Rusia merebut daerah pertanian inti di Ukraina.

Terdapat 14 negara yang bergantung pada Ukraina untuk lebih dari 10% impor gandum, salah satunya adalah Indonesia


3. Cyber-Attack

Laporan Interos juga menyoroti cyber-attack Russia sebelumnya di Ukraina, dan memperingatkan konflik tersebut dapat mengakibatkan cyber-attack pada supply chain.

Disebutkan Rusia menyerang jaringan listrik Ukraina pada tahun 2015 dan 2016, akibatnya ratusan ribu warga Ukraina kehilangan akses listrik. 

Serangan ini tidak hanya berdampak pada Ukraina, tetapi infrastruktur negara tersebut juga dapat memicu kerusakan yang signifikan dalam global supply chain.

Pada tahun 2017, Maersk, Merck, dan FedEx kehilangan total $7,3 miliar setelah cyber-attack terhadap software pelaporan pajak Ukraina yang menyebar ke seluruh dunia dalam hitungan jam. 

Serangan itu mengganggu aktivitas di pelabuhan, mengakibatkan pabrik tutup, dan menghambat lembaga pemerintah.

Penelitian tersebut mengatakan US Cybersecurity Infrastructure and Security Agency (CISA) mendesak perusahaan-perusahaan untuk bersiap menghadapi potensi cyber-attack Russia.


Apa Masalah yang akan Dihadapi oleh Supply Chain Leader?

Setidaknya terdapat enam masalah supply chain yang akan dihadapi perusahaan jika masalah ini terus berlanjut antara Rusia dan Ukraina:

  • Kekurangan bahan baku utama
  • Biaya bahan meningkat
  • Dampak kapasitas produksi
  • Demand volatility
  • Rute logistik dan batasan kapasitas
  • Pelanggaran cyber security

Diperkirakan akan terjadi kelangkaan hidrokarbon, mineral penting, logam, dan energi yang parah. 

Harga untuk barang-barang tersebut kemungkinan akan melonjak, akibat kelangkaan dan irrational buying. 

Hal ini akan berdampak pada operasi manufaktur di hulu dan hilir seperti halnya raw material mining.


Pengaruh Perang Rusia-Ukraina terhadap Komoditas Indonesia

Teuku Faizasyah selaku Juru bicara Kemlu RI menyebutkan bahwa Indonesia menjalin hubungan bilateral yang baik dengan Rusia dan Ukraina, mulai dari perdagangan hingga investasi. 

Namun sebelum peperangan antara kedua negara ini terjadi, Indonesia sudah mengalami tantangan dalam supply chain perdagangan dari dan keluar negeri akibat Covid-19.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) nilai ekspor Indonesia ke Rusia pada Januari 2022, sebesar US$ 176,5 juta mengalami kenaikan 58,69% (mtm) dibandingkan Desember 2021. 

Pun dibandingkan dengan Januari 2021, nilai ekspor RI ke Rusia naik 60,29%.

Komoditas yang diekspor Indonesia ke Rusia pada Januari 2022 di adalah:

  • lemak dan minyak hewan/nabati 
  • alas kaki 
  • karet dan barang dari karet dengan, dan 
  • barang lainnya.

Sementara itu, ekspor Indonesia ke Ukraina pada Januari 2022 hanya terealisasi sebesar US$ 5,4 juta atau turun 83,78% dibandingkan dengan nilai ekspor pada Desember 2021.

Komoditas yang diimpor Indonesia dari Eropa khususnya Ukraina adalah gandum.

Hal ini harus diwaspadai karena harga bahan dapat melonjak akibat perang dan juga booming komoditas.


Cara Mengatasi Gangguan Supply Chain

Para eksekutif harus berhati-hati terhadap potensi dampak dari konflik militer Rusia-Ukraina. 

Para pemimpin perlu memastikan rencana darurat yang tepat untuk supply chain mereka yang paling kritis dan supplier paling berisiko di wilayah tersebut.

Strategi mitigasi risiko meliputi:


1. Evaluasi & Identifikasi Risiko Saat Ini.

Review bisnis secara kritis dan identifikasi area dengan eksposur risiko. Mengidentifikasi dan mengevaluasi skenario potensi gangguan rantai pasokan.

2. Prioritaskan berdasarkan Probability dan Dampak.

Prioritaskan risiko potensial dengan kemungkinan besar benar-benar bisa terjadi.

Kemudian perkirakan dampak finansial  dari setiap peristiwa. Kembangkan rencana mitigasi, dimulai dengan skenario risiko yang paling mungkin dan berdampak paling tinggi.

3. Pastikan Kualitas Supplier.

Supplier dapat memengaruhi reputasi perusahaan.

Selain memastikan kualitas barang pemasok, perhatikan cara mereka memperlakukan karyawan, sumber bahan, dan berinteraksi dengan partner lain. Melakukan uji keuangan untuk memastikan kelangsungan supplier jangka panjang.

4. Diversifikasi Supplier.

Jangan mengandalkan satu sumber untuk bahan atau produk.

Sebaiknya ambil dari supploer berbiaya rendah di seluruh dunia, tetapi jika barang tidak dapat dikirim tepat waktu, supply chain menjadi rentan. Membangun supplier sekunder yang andal di berbagai wilayah untuk meminimalkan risiko ini.

5. Waspadai Supplier Risk.

Waspadai risiko yang mungkin dihadapi supplier, termasuk compliance terhadap peraturan, risiko negara, kondisi ekonomi dan politik, atau apa pun yang dapat memengaruhi kemampuan mereka untuk memenuhi kebutuhan Anda.

6. Libatkan Partner dalam Perencanaan Risiko.

Bekerja dengan supplier, operator transportasi, pusat manajemen data, dan pelanggan untuk memastikan mereka memiliki rencana pemulihan bencana dan continuity yang selaras dengan rencana Anda.

Melibatkan mereka dalam perencanaan manajemen risiko memperkuat pentingnya mereka sebagai partner dan meningkatkan peran mereka dalam mitigasi risiko.

7. Membeli Asuransi Kargo.

Asuransi penting dalam banyak aspek kehidupan, begitu juga dalam rantai pasokan Anda.

Temukan penyedia asuransi kargo yang dapat melindungi pengiriman dalam perjalanan, serta barang-barang yang disimpan di gudang, dari kehilangan atau kerusakan di mana pun di dunia, apa pun operator atau moda transportasinya.

8. Transparan dengan Partner.

Bagikan informasi, seperti peningkatan proyeksi penjualan, dan sertakan partner dalam perubahan desain produk.

Ini membantu supplier memiliki produk yang tepat tersedia saat dibutuhkan. Demikian pula, jika perkiraan penjualan turun, beri tahu partner juga.

9. Review Risiko Secara Berkala.

Tinjau skenario risiko secara teratur dan identifikasi perubahan dalam supply chain Anda. Persiapan adalah cara terbaik untuk melindungi perusahaan Anda dari gangguan rantai pasokan.


Dengan analisis, perencanaan, dan pelaksanaan yang tepat, mungkin untuk mengurangi risiko yang signifikan, memastikan ketahanan operasional, dan menghindari gangguan supply chain.

Peran Partner Pengiriman pada Krisis Supply Chain

Di masa yang serba tidak menentu saat ini, penting untuk memiliki partner pengiriman yang reliable dan dapat diandalkan.

ABC Express yang merupakan layanan pihak ketiga ini akan mengurus semua pengiriman barang, baik yang bersifat lokal maupun internasional.

Dalam hal pengiriman internasional maka penyedia jasa pengiriman barang profesional dengan pengalaman dan kualitas yang bisa diandalkan menjadi kebutuhan yang mutlak.

Bisnis yang melibatkan pengiriman barang aktif secara internasional akan sangat bergantung pada jasa layanan semacam ABC Express, apalagi saat frekuensi pengiriman produk semakin tinggi.

Keuntungan dan kelebihan yang didapatkan dengan menggunakan jasa ABC Express adalah mengurangi resiko keterlambatan, mengurangi kerusakan barang saat pengiriman, dan mendapatkan jaminan asuransi sehingga kegiatan bisnis anda berjalan dengan lancar.

Konsultasikan pengiriman terbaik Anda dengan ABC Express atau Dapatkan penawaran harga pengiriman khusus hari ini!